Katekisasi Pra Nikah yang Peka Gender

Senin, 16 Oktober 2017 Posted Administrator Press Rilis

Katekisasi Pra Nikah yang Peka Gender” untuk Penguatan KSR di Gereja. Dalam Seminar Konsep Penggembalaan Pra Nikah Peka Gender bagi Tokoh Agama Kristen Protestan wilayah Nias dan Nias Barat, PESADA memfasilitasi diskusi Konsep Pendidikan Pra Nikah yang Peka Gender serta Konsep Penggembalaan Pra Nikah hasil diskusi Para Tokoh Agama Kristen di Nias. Kegiatan ini disambut baik oleh Kantor Kementrian Agama Nias, dan mengharapkan Konsep Pra Nikah tersebut akan digunakan oleh 5 Denominasi Gereja di Nias. Narasumber dari Kemenag, PESADA dan Perwakilan Tokoh Agama Kristen memberikan pemahaman kepada peserta tentang  Arti Perkawinan dan Tanggung Jawab Perempuan dan Laki-Laki dalam Rumah Tangga, Pentingnya memasukkan isu HKSR dalam penggembalaan pra Nikah, Hubungan ikatan budaya dalam pernikahan, dll. Dari seminar ini peserta bersepakat bahwa penting agar setiap Gereja di Nias melakukan “Katekisasi Pra Nikah yang Peka Gender” secara regular bagi warga jemaat di atas 20 tahun (tanpa mempertanyakan apakah yang bersangkutan akan memutuskan akan menikah ataupun tidak).

Sistem Pengelolaan Pengaduan Kesehatan mulai berjalan.  Pelaksanaan pengelolaan pengaduan yang melibatkan FKPAR, FMS dan pihak di Puskesmas Gunung Stember dan Puskesmas Batang Beruh berjalan dengan baik. Pengaduan masyarakat yang diterima akan direkap dan dianalisis sekali 3 bulan untuk disampaikan kepada pemberi layanan dan Dinas Kesehatan melalui Minil Lokakarya Puskesmas. Selain itu, jika ada hal yang urgent, bisa langsung dikomunikasikan ke Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi agar segera dicarikan solusinya. Saat ini hasil rekap masih akan didiskusikan, dan hasil sementara menunjukan kesulitan dalam hal rujukan. Agar lebih memahami tugas dan fungsi dari pengelola pengaduan, akan dilaksanakan peningkatan kapasitas untuk Sistem Pengelolaan Pengaduan Kesehatan mulai berjalan.  Pelaksanaan pengelolaan pengaduan yang melibatkan FKPAR, FMS dan pihak di Puskesmas Gunung Stember dan Puskesmas Batang Beruh berjalan dengan baik. Pengaduan masyarakat yang diterima akan direkap dan dianalisis sekali 3 bulan untuk disampaikan kepada pemberi layanan dan Dinas Kesehatan melalui Minil Lokakarya Puskesmas. Selain itu, jika ada hal yang urgent, bisa langsung dikomunikasikan ke Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Dairi agar segera dicarikan solusinya. Saat ini hasil rekap masih akan didiskusikan, dan hasil sementara menunjukan kesulitan dalam hal rujukan. Agar lebih memahami tugas dan fungsi dari pengelola pengaduan, akan dilaksanakan peningkatan kapasitas untuk pengelola pengaduan serta membangun kode etik untuk pengelola pengaduan.

Pendampingan penyintas korban KTP. Penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan yang didampingi WCC Sinceritas terus meningkat termasuk kasus kekerasan seksual terhadap anak. Unsur FMS di tingkat lapangan pun mulai membantu mendampingi kasus-kasus pelanggaran HKSR yang terjadi di desa dengan memperhatikan prinsip pendampingan korban dari perspektif perempuan. Salah satu program PESADA untuk menguatkan penyintas korban WCC Sinceritas melakukan diskusi penyadaran kritis bagi penyintas.  Diskusi ini diharapkan dapat menjadi arena sharing dan saling menguatkan diantara penyintas. Selain diskusi kritis bagi penyintas, merespon tingginya ketergantungan ekonomi isteri kepada pasangannya, akan di mulai penabungan untuk penguatan ekonomi perempuan

Bagikan Halaman Ini